Hantavirus

Mengenal Infeksi Hantavirus Penyebab, Gejala, dan Pengobatanya

Hantavirus adalah kelompok virus yang bisa menyebabkan penyakit pada manusia, ditularkan dari hewan pengerat terutama tikus. Infeksi hantavirus bukan penyakit baru. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan yang berat pada paru-paru ataupun ginjal, hingga menyebabkan kematian jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Sebagian besar jenis virus dalam kelompok hantavirus bisa menular ke manusia lewat kontak dengan cairan tubuh hewan pengerat, termasuk urine, feses, atau air liur. Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebab, gejala, serta cara mencegah infeksi hantavirus sejak dini.

Apa itu Hantavirus?

Hantavirus adalah kelompok virus yang dapat menginfeksi manusia melalui kontak tubuh dengan cairan tubuh hewan pengerat yang terinfeksi. Saat terinfeksi hantavirus, gejala dan keluhan dapat berkembang dengan cepat dan menyebabkan komplikasi serius. Virus ini dapat menyebabkan dua sindrom utama, yaitu:

  • Hantavirus pulmonary syndrome (HPS), saat virus menyerang dan menimbulkan kerusakan paru-paru.
  • Hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), saat virus menyerang ginjal dan pembuluh darah sehingga menyebabkan syok hingga gagal ginjal.

Penyebab Infeksi Hantavirus
 

Hantavirus akan menginfeksi seseorang saat terjadi akibat kontak dengan cairan tubuh dari tikus atau hewan pengerat lain yang memang sudah membawa virus sebelumnya. Penularan hantavirus paling sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang mengering.

Selain itu, hantavirus juga bisa menyebar dengan beberapa cara lain, yaitu:

  • Mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi hantavirus.
  • Menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah kontak dengan benda yang terkontaminasi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
  • Adanya kontak cairan tubuh tikus dengan luka terbuka.
  • Mengalami gigitan tikus yang sudah terinfeksi hantavirus sebelumnya.

Faktor Risiko Infeksi Hantavirus
 

Hantavirus dibawa oleh tubuh hewan pengerat, beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena hantavirus meliputi:

  • Tinggal di lingkungan dengan populasi tikus yang tinggi.
  • Bekerja di bidang yang sering kontak dengan hewan pengerat, seperti pengendalian hama, pertanian, atau konstruksi.
  • Melakukan aktivitas luar ruangan, seperti berkemah, mendaki gunung, atau berburu.

Gejala Hantavirus
 

Gejala hantavirus umumnya muncul sekitar 1–8 minggu setelah penderitanya terinfeksi dan memiliki masa timbul gejala yang berbeda. Keluhan yang muncul dapat berbeda, tergantung pada organ tubuh yang terdampak. Namun, secara umum, gejala dari infeksi hantavirus adalah demam, lemas, dan nyeri otot. 

Terdapat 2 sindrom atau kumpulan gejala yang paling sering terjadi pascainfeksi hantavirus. Sindrom ini sangat berhubungan dengan organ yang diserang oleh virus. Kedua sindroma tersebut akan menimbulkan masing-masing gejala sebagai berikut:

A. Gejala hantavirus pulmonary syndrome (HPS):

Saat menyerang organ paru-paru, pada tahap awal, hantavirus dapat menimbulkan beberapa gejala seperti:

  • Demam.
  • Meriang.
  • Sakit kepala.
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri otot.
  • Sakit perut dan diare.
  • Kelelahan.

Apabila dibiarkan selama beberapa minggu tanpa penanganan yang tepat, penderita HPS dapat mengalami beberapa gejala berikut ini:

  • Batuk.
  • Sesak napas karena penumpukan cairan di paru-paru.
  • Jantung berdebar.
  • Nyeri dada.

B. Gejala hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS):

HFRS merupakan kondisi infeksi hantavirus yang parah dan kerap menyebabkan komplikasi pada ginjal hingga kematian. Gejala HFRS biasanya muncul pada 1–2 minggu setelah paparan. Beberapa gejala awal hemorrhagic fever with renal syndrome, di antaranya sebagai berikut:

  • Demam dan menggigil.
  • Nyeri pada punggung dan perut.
  • Sakit kepala berat.
  • Kelelahan.
  • Penglihatan kabur.
  • Muncul ruam di kulit dan kemerahan di wajah.

Sementara itu, pada tahap lanjut, HFRS dapat menimbulkan beberapa gejala lain, seperti:

  • Tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Pecah pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan.
  • Syok atau gangguan aliran darah.
  • Kebocoran plasma.
  • Gagal ginjal akut.

Diagnosis Infeksi Hantavirus
 

Dalam mendiagnosis infeksi hantavirus, dokter akan menanyakan keluhan, riwayat kesehatan pasien, serta riwayat kontak dengan hewan pengerat. Lalu, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi kondisi pasien secara keseluruhan. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk membantu memastikan diagnosis infeksi hantavirus adalah:

  • Tes darah, untuk mengetahui kadar sel-sel darah, protein, dan elektrolit, serta memeriksa fungsi organ ginjal maupun hati.
  • Tes urine, untuk mengevaluasi fungsi ginjal dan mendeteksi keberadaan darah dalam urine.
  • Tes serologi, untuk memeriksa keberadaan antigen hantavirus di dalam darah.
  • Tes pencitraan, seperti rontgen atau CT scan dada pada kasus HPS.
  • Tes PCR (polymerase chain reaction), untuk memeriksa keberadaan hantavirus di dalam darah.

Pengobatan Infeksi Hantavirus
 

Hingga saat ini, belum ada metode pengobatan yang benar-benar efektif untuk menyembuhkan infeksi hantavirus. Meski demikian, dokter dapat melakukan tindakan medis tertentu untuk meringankan gejala serta mencegah terjadinya komplikasi. Adapun beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menangani infeksi dan komplikasi hantavirus adalah:

  • Terapi oksigen menggunakan alat bantu napas, termasuk ventilator.
  • Pemberian cairan melalui infus, untuk mengembalikan keseimbangan cairan serta elektrolit di dalam tubuh.
  • Pemberian obat antivirus, seperti ribavirin, untuk menangani infeksi hantavirus yang menyebabkan HFRS pada tahap awal.
  • Pemberian obat untuk menangani syok, termasuk menormalkan kembali tekanan darah.

Pada kasus HPS yang berat, dokter dapat memasang extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) untuk menggantikan fungsi paru-paru yang rusak. Dengan begitu, seluruh jaringan tubuh tetap memperoleh asupan oksigen yang cukup.

Di sisi lain, apabila pasien mengalami HFRS yang berat, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani prosedur hemodialisa (cuci darah) guna menggantikan fungsi organ ginjal yang mengalami kerusakan.

Komplikasi Infeksi Hantavirus
 

Infeksi hantavirus bisa berakibat fatal apabila tidak segera ditangani dengan tepat. Semakin dini penanganan diberikan kepada pasien, semakin tinggi pula peluang pasien untuk bisa sembuh. Namun, jika kondisi dibiarkan berlanjut tanpa penanganan yang tepat, infeksi hantavirus dapat memicu terjadinya sejumlah komplikasi yang bisa membahayakan kesehatan. Beberapa risiko komplikasi tersebut, di antaranya:

  • Edema paru yang parah.
  • Gagal ginjal.
  • Gagal jantung.
  • Syok.
  • Kematian.

Pencegahan Infeksi Hantavirus
 

Upaya terbaik untuk mencegah infeksi hantavirus adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko terinfeksi virus tersebut, yaitu menghindari kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Hal ini dapat dilakukan dengan:

  • Rajin mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan air mengalir.
  • Jaga kebersihan bahan makanan serta alat-alat yang digunakan untuk mengolah makanan.
  • Basmi peredaran tikus yang ada di sekitar rumah dan tempat kerja serta menutup akses tikus agar tidak bisa masuk ke dalam rumah. Jika diperlukan, pasang perangkap tikus.
  • Bersihkan rumah serta area kerja menggunakan disinfektan secara rutin.
  • Hindari kontak dengan tikus beserta cairan tubuhnya, seperti urine, air liur, hingga feses.
  • Segera mencuci piring dan membersihkan meja serta lantai setelah makan. Penting pula untuk menyimpan makanan, termasuk makanan hewan peliharaan, dalam wadah yang tertutup rapat agar tidak mengundang datangnya tikus atau hewan pengerat.
  • Gunakan alat pelindung diri (APD) serta mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku jika memiliki pekerjaan yang sering melibatkan kontak dengan tikus atau hewan pengerat lainnya.

Penting untuk dipahami bahwa artikel ini bertujuan sebagai informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Apabila mengalami demam, nyeri otot, atau sesak napas setelah kontak dengan tikus atau berada di lingkungan yang banyak hewan pengerat, segera lakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. 

Dengan adanya teknologi medis modern dan tim dokter berpengalaman di Siloam International Hospitals, Anda tidak perlu harus jauh ke luar negeri untuk mendapatkan layanan berstandar internasional. Siloam Medical Concierge hadir untuk membantu Anda memperoleh informasi jadwal dokter, layanan pemeriksaan, dan fasilitas medis dengan standar rumah sakit internasional. Hubungi Siloam Medical Concierge untuk mulai perjalanan kesembuhan Anda bersama kami, di Indonesia.

Artikel ini dibuat dan diterbitkan oleh Siloam Hospitals, baca selengkapnya di: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-hantavirus

Dapatkan informasi atau layanan kesehatan terkini Siloam Hospitals di:
Instagram: https://instagram.com/siloamhospitals/
Contact Center: (021)1-500-181
Siloam-At-Home: https://wa.me/628111950181

Download aplikasi MySiloam untuk kemudahan pelayanan kesehatan Anda:
IOS: https://apple.co/3PYwuZK
Android: https://bit.ly/SiloamPS

1 thought on “Hantavirus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *